Learns NOW !

Belajar Mencerdaskan Diri

Archive for the ‘Islam’ Category

Keharusan Beramal

Posted by gudangilmu on 7 May 2007

Keharusan Beramal


Oleh: DR. Amir Faishol Fath

 

 

.Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta

orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan

dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan

yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu

kerjakan.” (At-Taubah: 105)

 

Ayat ini menurut Imam Ar-Razi mengandung seluruh yang dibutuhkan

seorang mukmin baik mengenai agama, dunia, kehidupan, dan akhiratnya.

Dari susunan kata dalam ayat tergambar dua hal: di satu sisi tampak nada

targhib (dorongan) bagi orang-orang yang taat, dan di sisi lain nampak nada

tarhib (ancaman) bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Maksudnya,

bersungguh-sungguhlah kamu untuk berbuat sesuatu demi masa depanmu

karena segala perbuatanmu akan mendapatkan haknya di dunia maupun

di akhirat. Di dunia perbuatan tersebut akan disaksikan Allah, Rasul-Nya,

dan orang-orang mukmin. Jika berupa ketaatan, ia akan mendapatkan pujian

dan pahala yang besar di dunia dan akhirat. Namun, jika berupa kemaksiatan

ia akan mendapatkan hinaan di dunia dan siksaan yang pedih di akhirat.

(Imam Ar-Razi. Mafatihul ghaib. Bairut, Darul fikr, 1994, vol. 16, h. 192).

 

Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al-Manar menerangkan makna ayat

tersebut begini: Wahai Nabi, katakan kepada mereka bekerjalah untuk dunia,

akhirat, diri dan umatmu. Karena yang akan dinilai adalah pekerjaanmu,

bukan alasan yang dicari-cari; pun bukan pengakuan bahwa Anda telah

berusaha secara maksimal. Kebaikan dunia dan akhirat pada hakikat tergantung

pada perbuatan Anda. Allah mengetahui sekecil apapun dari perbuatan tersebut,

maka Allah menyaksikan apa yang Anda lakukan dari kebaikan maupun keburukan.

 

Karenanya, Anda harus senantiasa waspada akan kesaksian Allah, baik itu

berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang terlewatkan. Semuanya

tampak bagi-Nya. Oleh sebab itu Anda harus senantiasa menyempurnakannya

(itqan), ikhlas, dan mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalankan ketaatan sekecil

apapun (lihat, Rasyid Ridha. Tafsir Al Manar. Tanpa tahun, vol. 11, h. 33).

 

Pada intinya, ayat di atas menegaskan pentingnya beramal. Bahwa, yang akan

menjadi tolok ukur keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat bukan

semata konsep yang ia hafal, melainkan sejauh mana ia mampu mengamalkan

teori yang telah diketahuinya. Al-Qur’an malah mengecam seorang yang hanya

pandai ngomong tapi tidak mengerjakannya (Ash-Shaf: 2-3). Rasulullah saw.

bukanlah sosok yang hanya pandai memberi nasihat, melainkan seluruh amalnya

merupakan nasihat. Siti Aisyah ketika ditanya bagaimana akhlak Rasulullah saw.,

ia menjawab bahwa akhlaknya adalah Al-Qur’an. (HR. Ahmad, no. 216).

 

Amal Sebagai Inti Keimanan

 

Kalimat wa quli’malu adalah perintah. Ini berarti keharusan untuk beramal.

Akidah tanpa amal akan menjadi kering, karena amal bagi akidah ibarat air

bagi sebuah pohon. Pernyataan para ulama bahwa iman naik turun

(yaziidu wayanqus) maksudnya ia naik dengan amal shalih dan turun

dengan kemaksiatan. Cermin akidah ada diri seseorang adalah amal

yang ia lakukan. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang selalu menggabung

antara iman dan amal: Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada

dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan

amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan

nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran (Al-Ashr: 2-3, lihat juga

Al-Bawarah: 62 dan Al-Maidah: 69).

 

Dalam Surat Al-Mu’minun ayat 1-10, Allah menyebutkan tanda-tanda

seorang yang beriman dengan amalnya: Sungguh beruntung orang-orang

yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, menjauhkan

diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, menunaikan zakat,

menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang

mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang

yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah

(yang dipikulnya) dan janjinya, serta memelihara sembahyangnya. Mereka

itulah orang-orang yang akan mewarisi.

 

Rasulullah saw. seringkali menyebutkan tanda-tanda keimanan dengan amal.

Anas r.a. meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Seorang tidak disebut beriman

sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

(HR Bukhari, no. 13).

 

Imam Bukhari dalam buku Sahihnya menulis judul khusus: Bab man qaala

innal iman huwal amal (orang yang mengatakan iman adalah amal), di dalamnya

ia menyebutkan ayat Az-Zukhruf: 72 dan hadits riwayat Abu Hurairah: bahwa

Rasulullah saw. pernah ditanya, perbuatan apa yang paling utama. Beliau berkata:

“Iman kepada Allah dan RasulNya.” Kemudian apa? “Jihad di jalan Allah.”

Kemudian apa? “Haji mabrur.” (HR. Bukhari, no. 26).

 

Ketika menjelaskan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim,

Rasulullah tidak hanya menggambarkan hal-hal yang berkenaan dengan

ibadah mahdlah (ritual), melainkan banyak hal yang berkaitan langsung

dengan amal sosial. Ibn Amr meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda:

“Seorang muslim adalah yang tidak menyakiti orang muslim lainnya dengan

lidahnya dan tangannya, dan seorang muhajir adalah yang hijrah dari larangan

Allah swt.” (HR Bukahri, no. 10).

 

Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa seorang bertanya kepada

Rasulullah saw. mengenai apa yang terbaik dalam ber-Islam? Rasulullah

menjawab: “Kau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada

orang lain, baik kamu kenal maupun tidak.” (HR Bukhari, no. 12).

 

Amal Sebagai Bukti Kepribadian

 

Pada kalimat berikutnya Allah berfirman: fasayarallah alamakum,

tidak ada sekecil apapun dari yang Anda lakukan kecuali akan mendapatkan

balasannya. Tidak ada kata yang terucap dari lidah Anda, kecuali terekam

secara lengkap: mayalfidzu minqaulin illa ladaihi raqiibun atiid. Lebih kecil

dari atom pun amal Anda akan tetap menjadi kredit poin dari perjalanan

hidup Anda. Bila perbuatan itu baik, simpanan amal baik Anda di akhirat

akan bertambah. Dan, bila perbuatan Anda jelek, simpanan amal Anda

akan jelek.

 

Famayya’mal mittsqaal dzarratiin khairan yarah, wamayya’mal mitqaala

dzarratin syarrayarah. Jadi, pribadi Anda hanya ditentukan oleh kedua

pilihan ini: bila Snda salah memilih, Anda akan sengsara selama-lamanya.

Tapi, bila pilhan Anda benar, Anda akan selamat dan bahagia di dunia

dan akhirat. Itulah makna doa yang selalu Anda panjatkan: “rabbanaa

aatina fidunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaa adzaabannaar.

(Al-Baqarah: 201).

 

Dengan menyadari hakikat ini, bila Anda melakukan kebaikan, Anda

tidak akan risau, sekalipun tidak ada seorang pun yang memuji Anda.

Bagi Anda berbuat baik adalah cicilan membangun kebahagiaan akhirat.

Apapun bentuk kebaikan tersebut. Kecil maupun besar, tampak hina di

depan mata manusia atau tidak, dalam kesunyian maupun di tengah

keramaian, menghasilkan uang atau tidak. Pribadi Anda selalu tampak

istiqamah, tidak berwarna-warnai. Popularitas bukan ukuran, karena hakikat

fasayarallah amalakum telah terpatri sedemikian kuat dalam keyakinan Anda.

 

Bila jalan ini yang Anda pilih, Anda akan selalu produktif. Simpanan pahala

Anda akan selalu bertambah. Dan hidup Anda akan selalu tenang, karena tabiat

pahala tidak akan pernah mengantarkan Anda kecuali kepada ketenangan hidup.

Dari sisi ini tampak apa yang dikatakan Imam Ar-Razi bahwa ayat ini merupakan

targhiib (pendorong) bagi orang-orang yang taat kepada Allah untuk senantiasa

beramal dan terus beramal.

 

Namun, bila Anda melakukan keburukan, Allah juga akan menyaksikannya,

fasayarallahu amalakum. Perlu digarisbawahi di sini bahwa keburukan dalam

terminologi Islam tidak hanya identik dengan perzinaan, mabuk-mabukan,

pencurian, korupsi, dan lain sebagainya, melainkan wudhu’ Anda yang tidak

sempurna, shalat Anda yang asal-asalan itu juga kemaksiatan. Di Hari Kiamat

kaki yang tidak dibasuh secara lengkap ketika berwudlu’ akan masuk neraka

(HR Bukhari, no. 165). Shalat yang tidak sempurna bacaan dan gerakannya,

tidak dianggap shalat. Rasulullah saw. pernah menyuruh sahabatnya untuk

shalat lagi karena sebagian gerakannya tidak sempurna (HR. Bukhari, no. 757).

 

Dalam berdakwah pun jika Anda tidak melakukannya dengan penuh

kesungguhan (baca: asal-asalan), itu juga kemaksiatan. Mengapa Anda

berbuat untuk Allah asal-asalan? Perhatikan, Allah senantiasa mengingatkan

dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada di bumi dan langit dari ciptaan-Nya yang

dibuat dengan main-main. Semua Allah tegakkan dengan penuh kesempurnaan.

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak

melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.

Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu

dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan

payah (Al-Mulk: 3-4).

 

Dari sini tampak bahwa bahwa ayat ini mengandung tarahiib (ancaman)

bagi orang-orang yang tidak mentaati Allah sebagaimana mestinya.

Az-Zamakhsyari berkata: ayat ini merupakan ancaman bagi mereka sekaligus

peringatan akan akibat yang harus mereka jalani jika terus menerus bergelimang

dalam kemaksiatan (lihat, Az Zamakhsyari, al kasysyaaf (Mansyratul balaghah)

vol. 2, h. 308).

 

Lalu mengapa Allah menambahkan setelahnya kalimat warasuluhu wal

mu’minun (bukankah sudah cukup dengan kesaksian Allah)? Imam Ar-Razi

mengutip jawaban Abu Muslim, “Rasulullah dan orang-orang mukmin adalah

saksi yang Allah pilih.” Wakadzalika ja’alnakum ummatan wasathan

(Al-Baqarah: 143).

 

Dalam ayat lain fakaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahiid waji’na

bika alaa haaulaai syahiida (An-Nisa: 41) (lihat. Imam Ar Razi, mafatiihul

ghaib: vol. 16, h. 194).

 

Dalam riwayat Anas r.a. diceritakan: Pernah suatu hari sebuah jenazah

dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah saw, melihat itu

mereka menyebutkan kebaikan si mayit, Nabi menjawab: wajib. Setelah

itu mayit yang lain lagi dibawa. Para sahabat yang melihatnya tidak

memujinya, bahkan menilainya tidak baik. Nabi menjawab: wajib.

Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan

Nabi? Nabi menjawab: mayit pertama yang kamu sebut kebaikannya

wajib masuk surga, sementara mayit kedua yang kamu sebut keburukannya

wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah di bumi.

(HR. Bukhari, no. 181, Muslim, no. 949).

 

Iklash Dasar Segala Amal

 

Kalimat berikutnya berbunyi: wasaturadduun ilaa aalimil ghaib

wasy syahadah. Ibn Abbas mengatakan, al ghaib yang dirahasiakan,

dikerjakan secara sembunyi-sembunyi; dan asy-syahadah yang dikerjakan

secara terang-terangan. Imam Ar-Razi berkata: al ghaib bisa dimaksudkan

segala yang terbetik dalam hati, berupa niat baik atau buruk, dan asy-syahadah

adalah segala perbuatan yang diragakan

(lihat Imam Ar Razi, mafaatihul ghaib, vol. 16, h. 194).

 

Dari sini tampak bahwa setiap perbuatan harus senantiasa serasi antara

niat dan tingkah laku. Hilangnya keserasian ini akan melahirkan ketimpangan,

kalau tidak dikatakan sia-sia sama sekali. Bila direnungkan secara mendalam,

paduan utuh antara fasayarallahu amalakum dan kalimat sesudahnya

wasaturadduun ilaa aalimil ghaib wasy syahadah, maka akan tergambar

bahwa niat sebagai pengantar setiap perbuatan harus karena Allah dan

untuk semata mencapai ridha-Nya. Karena, Dia-lah yang akan menilainya.

 

Dengan demikian tampak bahwa setiap perbuatan terdiri dari dua unsur:

niat yang mengantarkan dan perbuatan yang diragakan. Niat saja tidak cukup,

melainkan harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai

dengan petunjuk-Nya, bukan karangan akalnya sendiri. Perbuatan apa pun

yang tidak sesuai dengan petunjuk-Nya (baca: kemaksiatan) sekalipun

dihantarkan dengan niat yang ikhlas juga tidak akan diterima di sisinya.

Sebaliknya, perbuatan yang benar secara syariah, tapi niat yang

mengantarkannya tidak ikhlas, juga akan menggiring pada kecelakaan.

 

Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyebutkan tiga orang yang

sama-sama melakukan perbuatan baik secara dzahir, tetapi karena niatnya

salah akhirnya ketiganya sama-sama masuk neraka: pertama, seorang

berperang di jalan Allah dengan niat supaya dibilang pemberani; kedua,

seorang mengajarkan Al-Qur’an supaya dibilang alim; ketiga, seorang

menginfakkan hartanya supaya dibilang dermawan

(lihat Sahih Muslim, no. 1514).

 

Ustadz Sayed Quthub mengatakan: Islam adalah manhaj yang realistis,

gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak

diterjemahkan dalam gerakan nyata. Memang, diakui bahwa niat yang

baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam. Yetapi niat saja belum cukup

untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam

bentuk perbuatan. Begitu perbuatan muncul, di sini peranan niat menentukan

kualitasnya. Inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung

niatnya.” Perhatikan, dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat,

bukan niat saja. (Sayed Quthub. Fii dzilalil Qur’an. Bairut, Darusy syuruq,

1985, vol. 3, h. 1709).

 

Keikhlasan (sihhatun niyah) dan benarnya perbuatan (sihhatul amal)

adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan

dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas. Ibarat dua

sayap bagi burung, ikhlas dan kebenaran amal akan mengantarkan

pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor

burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap. Perhatikan

bagaimana Allah mengancam seorang yang shalat –padahal shalat adalah

ibadah yang sangat mulia dan utama dalam Islam– hanya karena niatnya

salah. Allah berfirman:

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang

yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan

(menolong dengan) barang berguna. (Al-Ma’un: 4-7).

 

Amal Yang Terus Menerus

 

Kalimat demi kalimat dari ayat di atas, bila dipahami secara utuh dan

benar akan melahirkan sikap sebagai berikut:

 

1. Kesadaran akan makna hidup yang Allah jatahkan hanya untuk beramal

shalih. Bila orang mengatakan “waktu adalah uang”, bagi seorang muslim

“waktu adalah amal shalih”. Karena, hidup akan menjadi hampa dan

sia-sia bila tidak diisi dengan amal shalih.

 

2. Amal shalih maksudnya adalah amal yang dilakukan dengan niat yang

ikhlas sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah prinsip yang

dibangun dari ayat: fasayarallahu amalakum warasululuh wal mukminuun.

 

3. Dari prinsip tersebut akan tercermin amal yang terus mengalir.

Tidak pernah berhenti. Karena, ia tahu tidak ada sekecil apapun dari

perbuatannya kecuali terekam secara utuh dan dikembalikan kepada

Allah alimul ghaibi wasy syahadah sesuai dengan bentuk dan kualitasnya.

Tidak ada yang tertinggal. Semuanya akan mendapatkan balasan yang setimpal.

 

4. Inilah makna dari ayat penutup fayunabbiukum bimaa kuntum ta’lamuun,

Allah tahu segala apa yang kamu lakukan, maka Ia akan memberikan balasan

sesuai dengan haknya, tidak ada yang dizhalimi.

 

 

Sumber :

http://www.dakwatuna.com/index.php/alquranul-karim/tafsir-ayat/2007/keharusan-beramal/

 

Posted in Islam | Leave a Comment »