Keharusan Beramal
Oleh: DR. Amir Faishol Fath
.Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan
yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu
kerjakan.” (At-Taubah: 105)
Ayat ini menurut Imam Ar-Razi mengandung seluruh yang dibutuhkan
seorang mukmin baik mengenai agama, dunia, kehidupan, dan akhiratnya.
Dari susunan kata dalam ayat tergambar dua hal: di satu sisi tampak nada
targhib (dorongan) bagi orang-orang yang taat, dan di sisi lain nampak nada
tarhib (ancaman) bagi orang-orang yang berbuat maksiat. Maksudnya,
bersungguh-sungguhlah kamu untuk berbuat sesuatu demi masa depanmu
karena segala perbuatanmu akan mendapatkan haknya di dunia maupun
di akhirat. Di dunia perbuatan tersebut akan disaksikan Allah, Rasul-Nya,
dan orang-orang mukmin. Jika berupa ketaatan, ia akan mendapatkan pujian
dan pahala yang besar di dunia dan akhirat. Namun, jika berupa kemaksiatan
ia akan mendapatkan hinaan di dunia dan siksaan yang pedih di akhirat.
(Imam Ar-Razi. Mafatihul ghaib. Bairut, Darul fikr, 1994, vol. 16, h. 192).
Syeikh Rasyid Ridha dalam tafsirnya Al-Manar menerangkan makna ayat
tersebut begini: Wahai Nabi, katakan kepada mereka bekerjalah untuk dunia,
akhirat, diri dan umatmu. Karena yang akan dinilai adalah pekerjaanmu,
bukan alasan yang dicari-cari; pun bukan pengakuan bahwa Anda telah
berusaha secara maksimal. Kebaikan dunia dan akhirat pada hakikat tergantung
pada perbuatan Anda. Allah mengetahui sekecil apapun dari perbuatan tersebut,
maka Allah menyaksikan apa yang Anda lakukan dari kebaikan maupun keburukan.
Karenanya, Anda harus senantiasa waspada akan kesaksian Allah, baik itu
berupa amal maupun berupa niat, tidak ada yang terlewatkan. Semuanya
tampak bagi-Nya. Oleh sebab itu Anda harus senantiasa menyempurnakannya
(itqan), ikhlas, dan mengikuti petunjuk-Nya dalam menjalankan ketaatan sekecil
apapun (lihat, Rasyid Ridha. Tafsir Al Manar. Tanpa tahun, vol. 11, h. 33).
Pada intinya, ayat di atas menegaskan pentingnya beramal. Bahwa, yang akan
menjadi tolok ukur keselamatan seseorang di dunia maupun di akhirat bukan
semata konsep yang ia hafal, melainkan sejauh mana ia mampu mengamalkan
teori yang telah diketahuinya. Al-Qur’an malah mengecam seorang yang hanya
pandai ngomong tapi tidak mengerjakannya (Ash-Shaf: 2-3). Rasulullah saw.
bukanlah sosok yang hanya pandai memberi nasihat, melainkan seluruh amalnya
merupakan nasihat. Siti Aisyah ketika ditanya bagaimana akhlak Rasulullah saw.,
ia menjawab bahwa akhlaknya adalah Al-Qur’an. (HR. Ahmad, no. 216).
Amal Sebagai Inti Keimanan
Kalimat wa quli’malu adalah perintah. Ini berarti keharusan untuk beramal.
Akidah tanpa amal akan menjadi kering, karena amal bagi akidah ibarat air
bagi sebuah pohon. Pernyataan para ulama bahwa iman naik turun
(yaziidu wayanqus) maksudnya ia naik dengan amal shalih dan turun
dengan kemaksiatan. Cermin akidah ada diri seseorang adalah amal
yang ia lakukan. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang selalu menggabung
antara iman dan amal: Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada
dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan
nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran (Al-Ashr: 2-3, lihat juga
Al-Bawarah: 62 dan Al-Maidah: 69).
Dalam Surat Al-Mu’minun ayat 1-10, Allah menyebutkan tanda-tanda
seorang yang beriman dengan amalnya: Sungguh beruntung orang-orang
yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, menjauhkan
diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, menunaikan zakat,
menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang
mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang
yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah
(yang dipikulnya) dan janjinya, serta memelihara sembahyangnya. Mereka
itulah orang-orang yang akan mewarisi.
Rasulullah saw. seringkali menyebutkan tanda-tanda keimanan dengan amal.
Anas r.a. meriwayatkan Rasulullah bersabda: “Seorang tidak disebut beriman
sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR Bukhari, no. 13).
Imam Bukhari dalam buku Sahihnya menulis judul khusus: Bab man qaala
innal iman huwal amal (orang yang mengatakan iman adalah amal), di dalamnya
ia menyebutkan ayat Az-Zukhruf: 72 dan hadits riwayat Abu Hurairah: bahwa
Rasulullah saw. pernah ditanya, perbuatan apa yang paling utama. Beliau berkata:
“Iman kepada Allah dan RasulNya.” Kemudian apa? “Jihad di jalan Allah.”
Kemudian apa? “Haji mabrur.” (HR. Bukhari, no. 26).
Ketika menjelaskan mengenai bagaimana seharusnya seorang muslim,
Rasulullah tidak hanya menggambarkan hal-hal yang berkenaan dengan
ibadah mahdlah (ritual), melainkan banyak hal yang berkaitan langsung
dengan amal sosial. Ibn Amr meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda:
“Seorang muslim adalah yang tidak menyakiti orang muslim lainnya dengan
lidahnya dan tangannya, dan seorang muhajir adalah yang hijrah dari larangan
Allah swt.” (HR Bukahri, no. 10).
Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa seorang bertanya kepada
Rasulullah saw. mengenai apa yang terbaik dalam ber-Islam? Rasulullah
menjawab: “Kau memberi makanan dan mengucapkan salam kepada
orang lain, baik kamu kenal maupun tidak.” (HR Bukhari, no. 12).
Amal Sebagai Bukti Kepribadian
Pada kalimat berikutnya Allah berfirman: fasayarallah alamakum,
tidak ada sekecil apapun dari yang Anda lakukan kecuali akan mendapatkan
balasannya. Tidak ada kata yang terucap dari lidah Anda, kecuali terekam
secara lengkap: mayalfidzu minqaulin illa ladaihi raqiibun atiid. Lebih kecil
dari atom pun amal Anda akan tetap menjadi kredit poin dari perjalanan
hidup Anda. Bila perbuatan itu baik, simpanan amal baik Anda di akhirat
akan bertambah. Dan, bila perbuatan Anda jelek, simpanan amal Anda
akan jelek.
Famayya’mal mittsqaal dzarratiin khairan yarah, wamayya’mal mitqaala
dzarratin syarrayarah. Jadi, pribadi Anda hanya ditentukan oleh kedua
pilihan ini: bila Snda salah memilih, Anda akan sengsara selama-lamanya.
Tapi, bila pilhan Anda benar, Anda akan selamat dan bahagia di dunia
dan akhirat. Itulah makna doa yang selalu Anda panjatkan: “rabbanaa
aatina fidunya hasanah wafil akhirati hasanah waqinaa adzaabannaar.“
(Al-Baqarah: 201).
Dengan menyadari hakikat ini, bila Anda melakukan kebaikan, Anda
tidak akan risau, sekalipun tidak ada seorang pun yang memuji Anda.
Bagi Anda berbuat baik adalah cicilan membangun kebahagiaan akhirat.
Apapun bentuk kebaikan tersebut. Kecil maupun besar, tampak hina di
depan mata manusia atau tidak, dalam kesunyian maupun di tengah
keramaian, menghasilkan uang atau tidak. Pribadi Anda selalu tampak
istiqamah, tidak berwarna-warnai. Popularitas bukan ukuran, karena hakikat
fasayarallah amalakum telah terpatri sedemikian kuat dalam keyakinan Anda.
Bila jalan ini yang Anda pilih, Anda akan selalu produktif. Simpanan pahala
Anda akan selalu bertambah. Dan hidup Anda akan selalu tenang, karena tabiat
pahala tidak akan pernah mengantarkan Anda kecuali kepada ketenangan hidup.
Dari sisi ini tampak apa yang dikatakan Imam Ar-Razi bahwa ayat ini merupakan
targhiib (pendorong) bagi orang-orang yang taat kepada Allah untuk senantiasa
beramal dan terus beramal.
Namun, bila Anda melakukan keburukan, Allah juga akan menyaksikannya,
fasayarallahu amalakum. Perlu digarisbawahi di sini bahwa keburukan dalam
terminologi Islam tidak hanya identik dengan perzinaan, mabuk-mabukan,
pencurian, korupsi, dan lain sebagainya, melainkan wudhu’ Anda yang tidak
sempurna, shalat Anda yang asal-asalan itu juga kemaksiatan. Di Hari Kiamat
kaki yang tidak dibasuh secara lengkap ketika berwudlu’ akan masuk neraka
(HR Bukhari, no. 165). Shalat yang tidak sempurna bacaan dan gerakannya,
tidak dianggap shalat. Rasulullah saw. pernah menyuruh sahabatnya untuk
shalat lagi karena sebagian gerakannya tidak sempurna (HR. Bukhari, no. 757).
Dalam berdakwah pun jika Anda tidak melakukannya dengan penuh
kesungguhan (baca: asal-asalan), itu juga kemaksiatan. Mengapa Anda
berbuat untuk Allah asal-asalan? Perhatikan, Allah senantiasa mengingatkan
dalam Al-Qur’an bahwa tidak ada di bumi dan langit dari ciptaan-Nya yang
dibuat dengan main-main. Semua Allah tegakkan dengan penuh kesempurnaan.
Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.
Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu
dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan
payah (Al-Mulk: 3-4).
Dari sini tampak bahwa bahwa ayat ini mengandung tarahiib (ancaman)
bagi orang-orang yang tidak mentaati Allah sebagaimana mestinya.
Az-Zamakhsyari berkata: ayat ini merupakan ancaman bagi mereka sekaligus
peringatan akan akibat yang harus mereka jalani jika terus menerus bergelimang
dalam kemaksiatan (lihat, Az Zamakhsyari, al kasysyaaf (Mansyratul balaghah)
vol. 2, h. 308).
Lalu mengapa Allah menambahkan setelahnya kalimat warasuluhu wal
mu’minun (bukankah sudah cukup dengan kesaksian Allah)? Imam Ar-Razi
mengutip jawaban Abu Muslim, “Rasulullah dan orang-orang mukmin adalah
saksi yang Allah pilih.” Wakadzalika ja’alnakum ummatan wasathan
(Al-Baqarah: 143).
Dalam ayat lain fakaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahiid waji’na
bika alaa haaulaai syahiida (An-Nisa: 41) (lihat. Imam Ar Razi, mafatiihul
ghaib: vol. 16, h. 194).
Dalam riwayat Anas r.a. diceritakan: Pernah suatu hari sebuah jenazah
dibawa melewati sekelompok para sahabat Rasulullah saw, melihat itu
mereka menyebutkan kebaikan si mayit, Nabi menjawab: wajib. Setelah
itu mayit yang lain lagi dibawa. Para sahabat yang melihatnya tidak
memujinya, bahkan menilainya tidak baik. Nabi menjawab: wajib.
Umar lalu bertanya: Apa maksud dari pernyataan wajib yang diucapkan
Nabi? Nabi menjawab: mayit pertama yang kamu sebut kebaikannya
wajib masuk surga, sementara mayit kedua yang kamu sebut keburukannya
wajib masuk neraka. Kamu semua adalah saksi Allah di bumi.
(HR. Bukhari, no. 181, Muslim, no. 949).
Iklash Dasar Segala Amal
Kalimat berikutnya berbunyi: wasaturadduun ilaa aalimil ghaib
wasy syahadah. Ibn Abbas mengatakan, al ghaib yang dirahasiakan,
dikerjakan secara sembunyi-sembunyi; dan asy-syahadah yang dikerjakan
secara terang-terangan. Imam Ar-Razi berkata: al ghaib bisa dimaksudkan
segala yang terbetik dalam hati, berupa niat baik atau buruk, dan asy-syahadah
adalah segala perbuatan yang diragakan
(lihat Imam Ar Razi, mafaatihul ghaib, vol. 16, h. 194).
Dari sini tampak bahwa setiap perbuatan harus senantiasa serasi antara
niat dan tingkah laku. Hilangnya keserasian ini akan melahirkan ketimpangan,
kalau tidak dikatakan sia-sia sama sekali. Bila direnungkan secara mendalam,
paduan utuh antara fasayarallahu amalakum dan kalimat sesudahnya
wasaturadduun ilaa aalimil ghaib wasy syahadah, maka akan tergambar
bahwa niat sebagai pengantar setiap perbuatan harus karena Allah dan
untuk semata mencapai ridha-Nya. Karena, Dia-lah yang akan menilainya.
Dengan demikian tampak bahwa setiap perbuatan terdiri dari dua unsur:
niat yang mengantarkan dan perbuatan yang diragakan. Niat saja tidak cukup,
melainkan harus tercermin dalam perbuatan. Perbuatan pun harus sesuai
dengan petunjuk-Nya, bukan karangan akalnya sendiri. Perbuatan apa pun
yang tidak sesuai dengan petunjuk-Nya (baca: kemaksiatan) sekalipun
dihantarkan dengan niat yang ikhlas juga tidak akan diterima di sisinya.
Sebaliknya, perbuatan yang benar secara syariah, tapi niat yang
mengantarkannya tidak ikhlas, juga akan menggiring pada kecelakaan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah menyebutkan tiga orang yang
sama-sama melakukan perbuatan baik secara dzahir, tetapi karena niatnya
salah akhirnya ketiganya sama-sama masuk neraka: pertama, seorang
berperang di jalan Allah dengan niat supaya dibilang pemberani; kedua,
seorang mengajarkan Al-Qur’an supaya dibilang alim; ketiga, seorang
menginfakkan hartanya supaya dibilang dermawan
(lihat Sahih Muslim, no. 1514).
Ustadz Sayed Quthub mengatakan: Islam adalah manhaj yang realistis,
gelora niat dan semangat tidak akan berdampak apa-apa sepanjang tidak
diterjemahkan dalam gerakan nyata. Memang, diakui bahwa niat yang
baik mempunyai posisi tertentu dalam Islam. Yetapi niat saja belum cukup
untuk membangun pahala, sebab ia akan dihitung setelah tercermin dalam
bentuk perbuatan. Begitu perbuatan muncul, di sini peranan niat menentukan
kualitasnya. Inilah makna hadits: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung
niatnya.” Perhatikan, dalam hadits ini perbuatan digabung dengan niat,
bukan niat saja. (Sayed Quthub. Fii dzilalil Qur’an. Bairut, Darusy syuruq,
1985, vol. 3, h. 1709).
Keikhlasan (sihhatun niyah) dan benarnya perbuatan (sihhatul amal)
adalah inti utama yang sangat menentukan. Keduanya adalah cerminan
dari seluruh rangkaian kata dan kalimat dalam ayat di atas. Ibarat dua
sayap bagi burung, ikhlas dan kebenaran amal akan mengantarkan
pelakunya kepada tujuan yang didambakan. Sudah barang tentu seekor
burung tidak akan bisa terbang hanya dengan satu sayap. Perhatikan
bagaimana Allah mengancam seorang yang shalat –padahal shalat adalah
ibadah yang sangat mulia dan utama dalam Islam– hanya karena niatnya
salah. Allah berfirman:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang
yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan
(menolong dengan) barang berguna. (Al-Ma’un: 4-7).
Amal Yang Terus Menerus
Kalimat demi kalimat dari ayat di atas, bila dipahami secara utuh dan
benar akan melahirkan sikap sebagai berikut:
1. Kesadaran akan makna hidup yang Allah jatahkan hanya untuk beramal
shalih. Bila orang mengatakan “waktu adalah uang”, bagi seorang muslim
“waktu adalah amal shalih”. Karena, hidup akan menjadi hampa dan
sia-sia bila tidak diisi dengan amal shalih.
2. Amal shalih maksudnya adalah amal yang dilakukan dengan niat yang
ikhlas sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Inilah prinsip yang
dibangun dari ayat: fasayarallahu amalakum warasululuh wal mukminuun.
3. Dari prinsip tersebut akan tercermin amal yang terus mengalir.
Tidak pernah berhenti. Karena, ia tahu tidak ada sekecil apapun dari
perbuatannya kecuali terekam secara utuh dan dikembalikan kepada
Allah alimul ghaibi wasy syahadah sesuai dengan bentuk dan kualitasnya.
Tidak ada yang tertinggal. Semuanya akan mendapatkan balasan yang setimpal.
4. Inilah makna dari ayat penutup fayunabbiukum bimaa kuntum ta’lamuun,
Allah tahu segala apa yang kamu lakukan, maka Ia akan memberikan balasan
sesuai dengan haknya, tidak ada yang dizhalimi.
Sumber :
http://www.dakwatuna.com/index.php/alquranul-karim/tafsir-ayat/2007/keharusan-beramal/